Kamis, 23 Maret 2017

SURGA & NERAKA

Neraka
Surga dan Neraka
"Surga dan neraka itu tidak perlu dibuktikan dengan wujud, cukup dengan logika. Itu adalah reward and punishment bagi manusia yang dianugerahi akal dan kehendak bebas di dunia.

Seperti di kantor aja, masak kalo kamu bolos terus karirmu akan bagus?

Itulah konsep keadilan Tuhan. Sungguh tidak adil jika Tuhan mencampurkan kejahatan dan kebaikan di tempat yang sama..."


Suparto, 42, pembuat buku "cara menggantung diri live di facebook".


BERAGAMA DENGAN AKAL

Akal
Kebenaran
Sejak dahulu, meski tanpa pengetahuan yang memadai, saya tidak pernah percaya bahwa Nabi Muhammad SAW menyematkan kata "kafir" kepada non muslim.

Saya berpatokan bahwa Rasulullah adalah manusia suci dan ketika kesucian beliau bersumber dari sang Maha Suci, maka dirinya selalu berada dalam kebaikan. Beliau diturunkan bukan untuk meng-Islamkan manusia, tetapi memperbaiki ahlak dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Jalan yang dibawanya adalah keselamatan atau Islam, sebagaimana Nabi-nabi yang lain juga membawa jalan keselamatan yang sama kepada umat manusia pada zamannya.

Dan ketika pengetahuan saya bertambah, saya menemukan banyak hal yang mendukung bahwa kata "kafir" itu disematkan kepada mereka yang perilakunya keluar dari tuntunan Tuhan dan Rasul-nya. Itu berlaku juga kepada umatnya sendiri.

"Janganlah kalian menjadi kafir sepeninggalku..." Perkataan ini bukan ditujukan kepada non muslim tetapi kepada umatnya dan secara spesifik kepada mereka yang meng-klaim sebagai sahabat2nya yang berjumlah puluhan ribu orang itu.

Begitu juga dengan bahasa "Jangan menjadikan Yahudi dan Nasrani.." bukan kepada mereka yang Yahudi dan Nasrani secara keseluruhan, tetapi kepada para pendeta-pendeta dan pengikutnya yang dulu menentang dan memerangi beliau.

Dalam ayat lain, Nabi Muhammad SAW juga menyampaikan firman Tuhan, bahwa Yahudi dan Nasrani tidak perlu bersusah hati karena Tuhan memberikan perlakuan yang sama kepada mereka.

Adapun ayat yang tidak membolehkan mengangkat Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah hal yang sangat wajar karena umat Islam harus dipimpin oleh Islam sendiri dalam wilayah ke-umat-an, seperti halnya umat Yahudi dan Nasrani dipimpin dari kalangan mereka sendiri.

Jika agama di ibaratkan "manual book", maka jelaslah yang bisa menjelaskan petunjuk itu adalah dari kalangan sendiri.

Tetapi yang terjadi sekarang bahasanya selalu di-generalisasi, dibuat seolah-olah keseluruhan, apalagi dibumbui oleh kepentingan. Padahal kalau kita pakai analogi sederhana ketika ada yang bilang, "Orang batak itu keras .. " Itu tidak berlaku bagi semua, tapi pandangan rata-rata.

Buktinya saya yang batak ini berperangai halus, santun dan imut tak berkesudahan. (Bentar, nyisir dulu)

Ketidak-mampuan mereka yang menerjemahkan sesuatu berdasarkan konteks "kapan", "dimana" dan "pada saat peristiwa apa" ayat dan hadis itu dikeluarkan, membuat banyak orang terjebak pada teks saja. Parahnya lagi banyak yang ho oh saja ketika ustadnya mengisi otak mereka. Yang penting si ustad berjenggot, jidat kapalan dan celana cingkrang, itu sudah patokan kebenaran.

Beragama itu sesungguhnya dituntut cerdas, karena itulah manusia disematkan akal untuk memahaminya. Jangan menjadi kerbau yang nurut saja ketika dibawa ke tempat pembantaian. Logika-logika harus penuh dulu sebelum meng-imani sesuatu.


Beragamalah seperti secangkir kopi. Ia bisa berada di kalangan menengah bawah sampai atas, tapi ada satu hal yang tidak bisa lepas darinya, yaitu kenikmatan.

SEPEDA JOKOWI

Sepeda
Jokowi
"Ya sudah, sana ambil sepedanya". 

Perkataan Jokowi ini begitu terkenal sekarang, sehingga kadang dibuat lelucon di media-media sosial.

Entah kenapa kalimat itu menjadi terkenal, meskipun dalam berbagai kesempatan pakde juga sering bagi-bagi buku ketika ketemu sama anak-anak di jalan. Mungkin karena kalimatnya yang cenderung lugu dan natural, dengan logat medok dan merakyat.

Kenapa juga "sepeda", belum terjawab..

Mungkin juga secara tidak sadar hadiah sepeda itu adalah mimpi Jokowi waktu kecil yang begitu mengidamkan sepeda untuk ke sekolah tapi bapaknya tidak mampu membelinya. Jokowi hanya memendam hasrat melihat anak orang berada naik sepeda, tanpa berniat manja meminta dan merepotkan bapaknya yang memang dalam kondisi tidak ada.

Dan ia berusaha memenuhi impian anak-anak yang sama dengan mimpinya.

Ikon sepeda Jokowi ini kemudian dikembangkan oleh tim kreatifnya di facebook page Presiden Joko Widodo dengan membuat pertanyaan yang berhadiah sepeda. Sampai sekarang, saya melihat postingan pertanyaan itu sudah mencapai 67 ribu like, 93 ribu komen dan 12 ribu share. Dahsyat memang.
Kuis Jokowi
Sepeda memang alat transportasi yang merakyat. Pada awal-awal kemerdekaan, sepedalah yang menjadi alat transportasi utama. Dan dengan ikon sepeda, Jokowi tanpa sadar juga sudah menunjukkan betapa ia adalah bagian dari rakyat. Insting dasar yang keluar dari kepribadian aslinya...

Ada seorang teman yang mengusulkan, "Seharusnya sepeda itu tidak hanya berbentuk sepeda saja, karena sepeda banyak. Tapi ada satu ciri yang menandakan bahwa sepeda itu dari Jokowi, mungkin berbentuk plat khusus yang dipatri di sepeda itu".

Usul yang sangat bagus, karena pemberian dari seorang Presiden pasti membanggakan penerimanya, apalagi Presiden itu pemimpin yang dia cintai. Dan itu kelak akan diceritakan ke anak-cucunya.

Dan sepeda dengan plat Presiden itu satu saat akan menjadi incaran kolektor dengan harga berlipat-lipat dari harga seharusnya.

Lepas dari itu, kita melihat satu usaha besar dari seorang Presiden untuk mendekatkan diri dengan rakyat yang dicintainya. Hal yang sudah sangat lama tidak kita lihat karena dulu kita dipaksa berpandangan bahwa jabatan Presiden itu sakral dan tidak tersentuh.

Semoga sepeda Jokowi itu bisa menjadi inspirasi bagi generasi mendatang yang bercita-cita untuk menjadi pemimpin, bahwa gelar dan jabatan sesungguhnya hanyalah kesepakatan manusia. Di mata Tuhan kita semua sama.

Kalau Jokowi itu sepeda, saya cukup secangkir kopi yang berusaha memadukan pahit dan manis dan berusaha mencapai titik keseimbangan maksimal sesuai kemampuan.

"Pakde, kapan saya bisa dapat sepeda?".


"Ya sudah, sana ambil sepedanya.. di toko sepeda."

Sabtu, 11 Maret 2017

JOKOWI EMANG GILA

Pembangunan
Presiden Joko Widodo
Memang "sial" jadi Menteri di era Jokowi. Di era-era pemerintahan lalu, menjadi menteri adalah sebuah prestise. Bahkan posisi menteri malah dijadikan sunber uang bagi partai. Menteri adalah jabatan politis, sebagai orang kepercayaan Presiden untuk melakukan tugas-tugas yang jauh dari kemampuan akademisnya.

Kerjaan menteri dulu adalah melobby DPR, mengatur anggaran, bagi-bagi rejeki, sesudah itu ongkang-ongkang kaki. Yang kerja biar staf ahli dan dirjennya.

Tapi tidak di era Jokowi.

Disini menteri ditarget untuk memberikan hasil sesuai rencana yang disepakati bersama antar Presiden dan mereka. Presiden menjaga ritme kerja mereka dan terus memantau perkembangan.

Sebagai contoh saat Jokowi menetapkan bahwa pertanian adalah poin utama dalam kesejahteraan masyarakat. Dan pondasi dasar dari produksi pangan adalah ketersediaan air.

Melihat bahwa beberapa daerah mempunyai potensi untuk mengembangkan pangan, tapi wilayah mereka jika kemarau rentan kekeringan, Jokowi memerintahkan 3 Kementrian bersatu menyelesaikan masalah utamanya, yaitu irigasi.

Menteri Pertanian, Menteri Pedesaan dan Menteri PU dipaksa untuk menyelesaikan masalah irigasi dengan membangun waduk-waduk dan embung. Embung adalah tempat penampungan air di kala hujan dan jadi solusi di kala kemarau.

Tidak tanggung-tanggung, ketiga Kementrian itu ditarget bangun 30 ribu embung di beberapa wilayah. Dana yang dipergunakan adalah dana desa yang sudah dianggarkan 500 juta pertahun. Kebayang kan, para menteri itu tidak bisa tidur sebelum target mereka tercapai?

Bahkan di Kutai Kartanegara, embung yang dibuat malah bisa dijadikan tempat penampungan air bersih untuk warga dan bisa langsung diminum. Kebayang jika 30 ribu model embung yang sama dibangun di banyak wilayah. Masyarakat sudah tidak perlu khawatir lagi air bersih dan tetap bisa mengairi pertanian mereka di musim kemarau.

Selain embung, Jokowi juga membangun 49 waduk untuk memperkuat irigasi. Jokowimungkin malu dengan  Malaysia yang sudah punya waduk 3 kali lebih banyak dari Indonesia.

Jokowi bekerja benar-benar menyentuh akar permasalahan. Ia ingin hasil pertanian kita satu waktu akan ekspor, karena itu dia membangun infrastruktur pengairannya. Karena tanpa kecukupan air, ekspor pangan itu sejatinya omong kosong.

Apa yang dikerjakan Jokowi sekarang ini baru akan dinikmati hasilnya beberapa tahun kedepan. Mungkin ada waktunya hasil panen kita melimpah ruah, sehingga harus ekspor dan Indonesia kembali menjadi negara agraris selain negara maritim.

Biar para mahasiswa gak tereak-tereak "harga cabe naik" lagi merampok kebiasaan tukang sayur dan emak-emak pake jarik.

Apa yang dilakukan Jokowi sekarang bukanlah keajaiban, tapi sudah seharusnya sejak dulu dilakukan. Sayangnya, dulu para menteri lebih suka jadi sapi perahan, sehingga mereka sendiri yang akhirnya harus mendekam di penjara karena korupsi miliaran.

Dengan target gila seperti itu, kapan sempat para menteri lobby-lobby lagi di hotel bintang lima dengan kopi secangkir seratus ribuan dan bisik-bisik siapa dapat apa dan bagaimana caranya?


Jokowi emang gila. Dia berusaha keras membalikkan stigma negara kita yang gemah ripah loh jinawi tapi selalu diperkosa oleh para tikus berdasi, kembali menemukan kedigdayaannya kembali. Angkat secangkir kopi!.

Kamis, 09 Maret 2017

JOKOWI & SECANGKIR KOPI PAHIT

SBY
Jokowi, SBY, Prabowo
Hal yang saya kagumi dari Jokowi adalah pengambilan waktunya yang sangat tepat. Meski semua berbicara bahwa kedatangan SBY adalah kedatangan biasa seorang mantan Presiden menemui Presiden, tapi apa yang terlihat adalah aroma politik yang sangat kental.

Yang harus dipertanyakan adalah kenapa Jokowi baru menerima SBY sesudah melewati pilgub DKI putaran pertama yang tekanannya mengharu biru?

Jokowi bukannya tidak paham bahwa pilgub DKI adalah bagian dari strategi menguasai Jakarta untuk pilpres 2019. Dan kemenangan Gubernur Jakarta adalah kunci utama untuk bisa memenangkan pilpres nantinya.

Jokowi tidak bisa sebebas Prabowo yang bisa mengatakan, "Menangnya Anies di DKI adalah kemenangan Prabowo menjadi Presiden..". Jokowi terikat dengan jabatan bahwa ia seorang Presiden yang mengayomi semua anak bangsa. Masalahnya jika ia tidak bisa menguasai medan perang, situasi bisa berbalik menghantam dirinya.

Kebayang jika Anies yang menjadi Gubernur DKI, maka program-program yang sedang berjalan bisa disandera dan dijadikan kendaraan kampanye bagi Prabowo. Begitu juga komunikasi antara pusat dan DKI akan deadlock, karena menjadi "tahanan politik" supaya ada tawar menawar kekuasaan.

Dan itu akan merepotkan pekerjaan karena jadi lebih banyak bicara politiknya daripada kerjanya. Karena itu, Jokowi harus juga bergerak untuk mengamankan situasinya. Cara yang paling aman baginya adalah mendekati rival besar Prabowo, yaitu SBY.

Dan kunci waktunya tepat untuk bertemu dengan SBY. SBY butuh pegangan sesudah Agus kalah dalam pertarungan. Ada sekitar 17 persen suara Agus yang diperebutkan oleh Ahok dan Anies. Dan ini harus jelas ada dimana. Sebagian relawan ada di Anies dan sebagian ke Ahok.

Pertemuan dengan SBY sudah menegaskan akan kemana suara Agus nantinya. Ini seperti penyerahan pasukan kepada barisan dengan potensi kemenangan lebih besar.

Dan Jokowi memainkan perannya sebagai kepala negara. Strategi yang halus dan pintar. Ia tidak terlihat mendukung Ahok, tetapi ia merangkul musuh dari musuh Ahok.

Harus dipahami bahwa Jokowi dan Ahok sejak awalnya adalah satu paket. Program-program pusat di Jakarta akan lebih mudah terealisasi jika Ahok menjadi Gubernur DKI. Bahasa mereka berdua sudah sama.

Lalu apa penawaran SBY kepada Jokowi jika ia harus menyerahkan suara pemilih Agus kepada Ahok? Pasti banyak, karena kita tahu bahwa sang mantan tidak mau bertemu seperti itu jika tidak ada maksudnya. Tapi kita juga tahu bahwa Jokowi adalah seorang yang keras kepala. Ia tidak mudah ditundukkan oleh siapapun, termasuk orang-orang partainya sendiri.

Ibaratnya Jokowi berkata begini, "Kalau mau ke sini ya sini aja. Tapi ga usah banyak syarat, gua sekarang yang pegang senjata". Memang beda politik di tangan pakde ini. Saya pernah ngomong kepada seorang teman, "Sesudah bertahun-tahun kita dihidangkan politik kotor, baru sekarang kita tahu artinya politik berkelas".

Seperti secangkir kopi. Ia tidak perlu memaniskan rasanya supaya diterima lidah. Ia tetap pahit seperti sejatinya dirinya. Lidah yang mencecaplah yang harus menambahkan sedikit gula supaya ia bisa menerima.


Dan Jokowi adalah secangkir kopi yang pahit rasanya... terutama bagi lawan-lawan politiknya..

RAJA YANG TERDESAK KUDA

SBY
Jokowi Bertemu SBY
Sebenarnya sudah jauh-jauh hari SBY ingin datang menemui Jokowi. Pak SBY ini pemain strategi dan itu harus kita akui di tengah badai cuitan keprihatinannya. Munculnya beliau dalam cuitan-cuitannya pada masa kampanye Agus, adalah strateginya untuk mendongkrak elektabilitas anaknya. Ia masih berfikir bahwa nama besarnya akan mempengaruhi pemilih. Dan salah satu strateginya pada waktu itu adalah menemui Jokowi.

Ada kabar bahwa pihak SBY sebenarnya sudah mengajukan diri untuk datang ke istana pada masa kampanye Agus. Sekali lagi, itu untuk menaikkan elektabilitas Agus bahwa Jokowi menerimanya.

Tapi sayang, Jokowi paham permainannya. Maka ia menunda pertemuan dengan SBY dan malah menerima Prabowo. SBY pun curhat lah sekuat-kuatnya.

Nah, sesudah Agus selesai, barulah permainan Jokowi dimulai. Disini ia yang memegang langkah. Jokowi paham bahwa ia tidak mungkin berhadapan dengan dua kekuatan sekaligus. Maka ia pecah keduanya. Pada waktu kampanye ia mendekati Prabowo, maka aliran suara mengalir deras ke Prabowo. SBY tersingkir.

Selesai kan? Sekarang langkah kedua dimulai. Ia menerima SBY yang jelas sudah bukan lagi menjadi rival besarnya, kecuali jika SBY bersatu dengan Prabowo.

Maka, Jokowi pun menerima kunjungan SBY. Strategi yang sama yang ia lakukan kembali. Musuh dari musuhmu adalah temanku. Ada dua hal yang diharapkan dalam pertemuan dengan SBY ini.

Satu, untuk memecah barisan para pendukung Agus merapat ke Anies. Dan dua, untuk meredam isu e-KTP yang tampaknya akan meledak karena ada nama-nama besar disana.

Apa yang kita pelajari disini adalah Jokowi mampu memainkan "waktu' yang tepat dalam melangkah. Waktu yang tepat adalah kunci. Salah menempatkan posisi, maka berantakan semua strategi.

Kali ini pak SBY terdesak. Ia tidak bisa lagi menolak bahwa Jokowi ini koppig, keras kepalanya. Ia harus mengakui bahwa Jokowi adalah politisi dan pemain strategi ulung. Pak SBY harus mengambil posisi yang tepat juga dan lebih menguntungkan baginya merapat ke Jokowi daripada berbenturan dengannya.

Pak SBY boleh jadi bidak raja hitam dalam permainannya. Tapi ia harus mengakui bahwa langkah kuda Jokowi adalah langkah strategis yang dimainkan oleh bukan pemain biasa.

Daripada raja tergeletak menyerah, lebih baik merapat saja. Benar begitu kan, pakde? "Ah, kamu tau aja... Sana, ambil sepedanya.."http://www.dennysiregar.com