Kamis, 06 April 2017

APA KABARNYA FIRZA HOTS & KAK EMMA?

Firza Husen
Firza
Lama tidak dengar kabar tentang kasus Firza Hots dan Kak Emma. Kasus ini seperti mengendap tanpa ada kabar apapun. Hilang seperti kentut yang cuma mampir di ujung hidung -buat orang marah-marah- untuk kemudian pergi bersama angin.

Bagaimana bisa begitu? Supaya paham, kita kembali dulu ke aksi 212.

Ketika penahanan "pelaku makar aksi 212", polisi juga menyita gadget mereka. Dari isi gadget, polisi bisa menentukan langkah selanjutnya. Dan banyak "hil yang mustahal" di gadget orang-orang itu yang jadi kartu as polisi untuk menekan mereka.

Ibaratnya "rahasia tergelap" mereka terbongkar sudah, bahkan diantaranya ada rahasia yang sangat memalukan jika dibuka keluar. Seperti ada gambar yang sedang mengupil pake jempol kaki.. sungguh mengherankan.

Oke, sesudah itu para "tersangka" dipulangkan ke rumah masing-masing dengan pernyataan tidak akan lagi ikut aksi bahkan muncul ke permukaan massa.
Efektif.

Sampai sekarang kita jarang sekali mendengar kicauan RS, KZ, AD bahkan tokoh emak2 RSP. Suara mereka hilang ditelan bumi dan tidak terdengar berkoar lagi..

Poin ini dimenangkan polisi. Tapi polisi punya satu target lagi, yaitu tokoh yang sedang naik daun dan punya pengaruh besar terhadap gelombang aksi selanjutnya. Karena itu polisi menangkap satu orang yang diduga dekat dengannya.

Dibongkarlah gadgetnya dan tampaklah gambar2 dan chat yang aduhai indahnya. Gambar2 itu "dibungkus" oleh polisi dan dibawa ke tokoh tadi.

"Gimana, kami punya gambar2 hot melotot nih. Bisa ngga berhenti dari aksi2 besar ?" Kata polisi. Si tokoh ini berkeras tidak mau. Lha, dia sudah dibayar banyak, nanti bisa wan prestasi bisnis selanjutnya bisa gak jalan lagi.

Mentok negosiasi, polisi mulai jalankan planning B. Gambar2 itu sulit dijadikan bukti hukum kuat, tapi ada satu senjata pemusnah massal jika gambar itu beredar yaitu hancurnya performa suci yang selama ini dibangun susah payah.

Karena polisi tidak mungkin menyebarkan, maka dibuatlah seolah-olah ada "anonymous". Dengan nama anonymous ini, beredarlah di dunia maya chat yang membuat seorang kakek - yang sudah mati segan hidup setengah mati - bisa bangkit dan muda kembali.

Maka mulailah sesi penghancuran karakter paling ganas di abad ini.

Perlahan kesucian itu ditelanjangi sebulat-bulatnya dengan beredar luas percakapan itu. Bully-an massif membuat harga diri jatuh ke dasar bumi. Polisi sudah diatas angin.

Untuk menepis kabar yg sudah beredar luas itu, pertahanan terakhir -meski sangat lemah- adalah membuat baliho dimana2 dengan tema "Bela Ulama".

Akhirnya sang tokoh menyerah. Ia datang ke salah satu menteri dan minta supaya tidak di kriminalisasi. Seperti tikus, ia sebenarnya memang digiring ke sang menteri karena disanalah sebenarnya kunci jawaban dan jalan keluarnya.

"Oke, saya bisa stop kasus itu. Tapi dengan syarat bla bla bla..". Kata sang menteri. Kali ini si tokoh kontroversial tidak bisa mengelak. Kacau kalau gambar2 itu beredar di dunia maya. Jejak digital bisa jadi jejak abadi. Masak satu waktu cicit2nya melihat eyangnya sedang dalam posisi sama seperti waktu mereka masih bayi ?

Maka sang menteri berjanji akan menjaga nama baiknya dengan catatan ia harus bekerja sama. Pertama, sang tokoh harus menghentikan aksi massa. Dan kedua, jika masih ada aksi beritahu siapa tokoh2nya.

Maka sang tokoh pulanglah dengan hati lega sambil mendengar lagu obbie messakh, "malu aku malu, pada semut merah.. yang berbaris di dinding, menatapku curiga.."

Ia kemudian meminta kelompoknya untuk tidak melakukan aksi besar lagi.

Tapi ada tokoh2 lain yang tidak setuju dengannya. Mereka ini jauh lebih radikal dan punya agenda sendiri. Tokoh lain ini memaksa untuk buat aksi yang lebih frontal yang sempat tertunda, yaitu jatuhkan sang Presiden.

Karena menghentikan tidak bisa, maka jalan satu-satunya membiarkan aksi itu dilaksanakan. Tapi kali ini sang tokoh tadi menjadi kaki tangan polisi.

Ia memetakan apa yang akan terjadi dan mengirimnya melalui pesan rahasia seperti film2 spy Hollywood. Kadang pake celana dalam bekas sebagai kode dan dijemur dengan merk di luar. Polisi juga menyamar sebagai pedagang tahu bulat dan siap mengambil cd bekas yang dijemur itu. Canggih lah strategi pertukaran informasi mereka...

Dan kita tahu akhirnya aksi 313 bisa diredam dan penjahat sebenarnya bisa diamankan...

Begitulah kenapa Firza Hots dan Kak Emma sampai sekarang tidak pernah lagi keluar.

Dapat kabar bahwa ternyata kode2 di cd bekas itu di merknya.

Kalau HINGs artinya Hari Ini Nasi Gorengs. Maksudnya, sedang ada pertemuan tertutup. Kalau RIDER artinya Rasanya peDes tapi segER. Yang maksudnya target sudah ditentukan untuk masuk gedung DPR.

Dan polisi yang menyamar sebagai pedagang tahu bulat memberi kode, "tahu bulat digoreng dadakan... 500 saja.". Maksudnya, siapa yang menggerakkan?.

Kode polisi langsung dijawab dengan cd bekas yang disobek di jemuran, artinya "si Khottot".

Ribet kan permainan intelijen itu?. Lebih mudah seruput kopi sebenarnya.

Denny Siregar

ZAKIR NAIK, ENTERTAINER AGAMA

Pendakwah Kontroversial
Zakir Naik
Tiba-tiba jadi inget program "beli rumah tanpa hutang". Seorang teman pernah ikut seminar gratisnya sehari. Disana dikasih kopi dan makanan kecil, katanya. "Trus, apa yang didapat disana?" Tanyaku. "Gak ada. Cuman klaim kesuksesan dan kalau pengen tahu lebih lanjut, ikuti seminar kedua tapi harus bayar sekian juta rupiah".

Saya jadi senyum sendiri dan teringat pengalaman sama dulu, waktu ikut seminar saham. Sama seperti dia, saya cuman ikut yang gratisnya aja karena bayar seminar kedua gak kuat harus bayar sekian juta.

Saya sendiri heran. Seandainya si yang punya seminar sukses menjual properti dan bermain saham, ngapain juga dia buka seminar membuka rahasianya ya?

Kalau sukses di properti, pasti seperti Ciputra yang seminar hanya sekedar eksistensi saja, bukan karena uang. Begitu juga pemain saham bagus, pasti akan konsentrasi di sahamnya daripada sibuk seminar kesana kemari.

Seorang teman berkata, "Trik-trik marketing sekarang semakin canggih. Mereka yang buka seminar-seminar gituan, biasanya adalah orang yang gagal dalam profesinya. Tapi mereka bisa membungkus kegagalan mereka untuk mendapatkan keuntungan. Terutama dari para pemula dengan menjual mimpi-mimpi besar.

Mereka tidak perlu takut di somasi ketika si pemula gagal, karena tinggal di klaim saja, "kamu kurang keras berusaha.."

Industrialisasi bacot memang aduhai. Cukup bentuk tim manajemen yang memanfaatkan istri, suami atau saudara, jadilah sebuah perusahaan kecil. Lalu bikin promosi melalui media seperti radio dan televisi. Sekarang bahkan diperkuat dengan youtube.

Dibungkuslah kegagalan disana dengan kesuksesan2. Dijual mimpi bahwa "satu saat kamu akan jadi begini, bisa beli yang itu.."

Dan industri ini sudah masuk ranah agama.

Ada pendeta yang harus pake aji Gundala Putra Petir untuk menjatuhkan sekian banyak umat dan di shooting oleh kamera lalu disebarkan melalui stasiun televisi (dulu begitu). Tujuannya apalagi jika bukan jemaatnya semakin banyak sehingga semakin banyaklah donasi.

Jadi melihat fenomena Zakir Naik juga saya tidak kaget.

Zakir Naik hanya mengisi celah pasar yang belum tergarap saja. Sampai sekarang, belum ada lagi pendebat tersohor setelah Ahmed Deedat. Zakir terinspirasi dan mengambil celah pasar itu..

"Celah pasar", itulah sebenarnya kata kuncinya. Maka dengan segala kemampuan berbicara, Zakir Naik memainkan "drama agama" dengan sangat manis. Ia mungkin kaget juga awalnya ketika banyak sambutan dari pihak muslim yang haus akan ketokohan dan hidup dengan perasaan kalah di India.

Ketika ada Zakir Naik ini, harga diri mereka terangkat. Apalagi ketika dari debat itu ada yang akhirnya masuk Islam, satu atau dua orang. Berita ini dikabarkan dengan bombastis melalui media-media, terutama media visual seperti youtube. Judulnya pun disesuaikan, "ribuan umat hindu masuk Islam sesudah mendengar ceramah Zakir Naik.."

Zakir seperti mengisi kehausan umat muslim disana..

Tapi fenomena masuk Islam itu hanya berjalan satu dua, sedangkan itu adalah alat marketing yang bagus. Maka tidak salah jika kemudian ceramah itu dibumbui dengan adegan settingan mulai si penanya sampai orang masuk Islam. Kayak acara termehek-mehek yang mulai dari awal sampe akhir semuanya diatur.

Semakin lama model seperti ini tampak juga. Maka wajar jika negara seperti India, Inggris, Pakistan sampai Malaysia mem-blacklistnya. Karena selain itu ada unsur tepu-tepunya. Dan yang bahaya bukan orang Kristen masuk Islam, tetapi orang Islam yang menjadi radikal sesudah mendengar Zakir Naik ceramah.

Karena itu ketika diundang ke Indonesia, tentu Zakir Naik mau saja. Ya, dimana-mana dia udah ketahuan belangnya dan sekarang mencari pasar baru yaitu Indonesia. Supaya tambah ngetop, maka ia harus melakukan marketing pendahuluan termasuk dengan berfoto bersama Jusuf Kalla yang gak ngerti apa-apa.

Sama seperti si pembicara beli rumah tanpa hutang, si pembicara seminar saham dan Zakir Naik, mereka sama-sama gagal di bidangnya. Tapi mereka mampu mengemasnya sebagai keuntungan dengan kemampuan seorang entertainer.

Dan satu kesamaan target marketing mereka adalah "orang-orang yang kurang pintar dan suka berangan-angan panjang".

Nah, model Zakir Naik ini juga bisa diadaptasi oleh para jomblo profesional. Kegagalan berkali-kali bisa dijadikan pengalaman dengan membuat buku "Tips dan trik menghadapi penolakan" atau buku "Sulit mendapat pasangan? Sama, saya juga".


Dari buku bikin youtube, terus bicara di radio dan satu saat punya acara sendiri dengan tema, "Semakin sering ditolak, semakin sukses" Jam terbang jomblo memang dari seberapa sering dia ditolak. Coba deh praktekkan. Kalau berhasil traktir saya minun kopi yaaaa.
Denny Siregar

Selasa, 04 April 2017

KALAH JADI ABU, MENANG JADI ARAB

Arabisasi
Wejangan Gus Dur
Saya punya teman SMP.

Dulu orangnya culun dan tidak terkenal. Mendadak ketika reuni nama dia berganti menjadi - sebut aja - abu simelekete. Saya sebenarnya mau ketawa hanya gak enak hati saja - soalnya dah lama gak ketemu.

Dan si abu ini seperti biasa mendadak ngustad. Anehnya, beberapa teman kayak dicocok hidungnya ketika si abu bicara agama. Mungkin karena "abu"nya. Saya sampe becanda pake peribahasa, kalah jadi abu menang jadi arab.

Lalu sekarang tiba-tiba kita mengenal si Gatot Saptono alias Al Khatat -susah ejaannya- alias Al Kempinski.

Buat kita mungkin lucu, tapi pertanyaan terbesarnya adalah kenapa banyak orang mendadak menjadi kearab-araban?

Mereka bukan saja mengganti nama Indonesianya menjadi nama arab. Tetapi bahkan cara berpakaiannya yang ke gurun pasir-gurun pasiran. Mereka saling menyapa 'antum', 'akhy', 'ukhti' dan sebagainya.

Dan kalau ada yang ulang tahun, berseliweran kata ucapan 'barakallahu fi umrik' dibales dengan ucapan 'Jazakallahu khairan'. Saya yakin, tidak banyak temanku yang tahu artinya sekedar ikut-ikutan trend saja. "Biar lebih Islami.." katanya.

Saya sampe bengong, "Perasaan saya dulu sekolah di Indonesia, kenapa tiba-tiba jadi banyak warga Saudi?".

Ternyata saya mendapat jawaban bagus dari Bupati Purwakarta, Kang Dedi Mulyadi.

"Jawa barat -dia berbicara tentang daerahnya- kehilangan identitas dirinya, yaitu kesundaannya.
Dekatnya wilayah Jabar dengan Jakarta, membuat banyak warga Jabar yang terkena arus modernisasi. Mereka ingin berbicara seperti orang Jakarta, gaya hidup seperti orang Jakarta dan lain-lain. Jakarta sentris, istilah kerennya. Padahal gaya hidup kota Jakarta juga banyak di pengaruhi Singapura.

Kehilangan kebanggaan sebagai "urang sunda" membuat Jabar kehilangan identitas dirinya. Pada saat limbung itulah, Jabar dimasuki budaya timur tengah melalui penyebaran agama.

Ini yang dinamakan gegar budaya - shock culture. Karena hilang kebanggaan kesundaannya, maka mereka menganggap arab adalah segala-galanya, penyelamat identitas dirinya yang hilang.

Maka wajar, untuk menandingi budaya barat yang mereka anggap haram, mereka memakai budaya arab sebagai pembanding. Ini disebabkan lemahnya pengetahuan mereka tentang budaya aslinya karena memang pemerintahnya yang tanpa sadar menghilangkan identitas budaya mereka sendiri..

Seharusnya kita belajar banyak dari Bali. Mereka banyak yang beragama Hindu, tapi tidak sama dengan Hindu di India. Mereka punya budaya tersendiri yang menyatu dengan agamanya. Digempur dengan arus modern dari berbagai macam bangsa di dunia, Bali tetap tidak kehilangan Balinya. Tidak kehilangan identitas dirinya. Tidak kagetan..

Budaya asli kita sebenarnya penuh pesan yang bermakna. Pesan-pesan itu adalah ajaran dari orangtua yang sudah kita tinggalkan dengan alasan tidak cocok dengan zaman. Kita durhaka pada leluhur.

Cara melawan intoleransi yang menguat karena kebanggaan agama, seharusnya dilawan dengan menguatkan budaya. Simbol-simbol budaya harus muncul kembali sebagai pengingat bahwa negara kita kaya akan ragam budaya.

Dan itulah yang menjadikan negara kita satu dahulu. Kebanggaan akan keragaman budayanya.."
Saya merasa memang disitulah akar masalahnya. Gedung-gedung kita di kota besar sudah meninggalkan simbol budayanya. Modernisasi ditelan mentah dengan mencampakkan akar kita. Ditambah kemiskinan, yang membuat orang menjadi tidak pintar dan mudah kagum akan budaya luar sehingga mudah dimanfaatkan.

Dan ini terjadi dimana-mana di banyak wilayah di Indonesia..

Lucu memang sekaligus miris melihatnya. Seharusnya kita belajar pada secangkir kopi yang meski dihajar dengan berbagai macam campuran, ia tetaplah secangkir kopi. Semua campuran itu bukan mematikan rasa kopinya, tetapi malah menambah kenikmatannya.


Mungkin - untuk mengikuti trend - saya harus mengganti nama saya dengan arab supaya Islami juga. "Denny Siregar Al fukat bin abu suk" cocok kayaknya. Serufut ya, akhi.. ga serufut, fentung..

Denny Siregar

BASUKI, JENDERAL PERANG JOKOWI

Menteri PUPR
Basuki Hadimuljono
Salah satu Jenderal Perang Jokowi adalah sosok yang tidak pernah muncul di permukaan media. Namanya Basuki Hadimuljono. Beliau adalah Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahaan atau disingkat Menteri PUPR.

Pak Basuki ini sangat jarang muncul di media. Ia bukan tipikal orang yang suka menonjolkan dirinya. Biasanya sosoknya hanya terpantau ketika sedang makan-makan sama Jokowi di warung sederhana saat selesai meresmikan proyek.

Tapi kerjanya gila.

Beliau menjaga target Jokowi untuk menyelesaikan banyak proyek besar pembangunan jalan, waduk, jembatan, pos perbatasan dan banyak lagi. Gak main-main kerjaan di tangan beliau, nilainya ribuan triliun rupiah.

Ribuan kilometer jalan-jalan baru dari Papua sampai Sumatera adalah hasil karya pak Basuki. Pos-pos perbatasan yang megah adalah buah tangannya. Waduk-waduk yang gagah adalah coretannya. Pak Basuki -wong Solo ini- adalah seorang pelukis, seorang artis dari sisi yang berbeda.

Lulusan Geologi Universitas Gajah Mada ini, usianya sudah 62 tahun. Tapi kemampuan fisiknya terbang dari Sabang sampai Merauke saat pelaksanaan proyek bahkan saat peresmian mendampingi pakde, bukan sembarangan. Orang muda bisa muntah-muntah kalau ngikutin ritmenya. Saya sudah pasti nyerah.

Yang menarik, pak Basuki ini adalah tipikal pekerja dan bukan politikus. Itulah kenapa pak Jokowi sayang sekali padanya. Jokowi -jika melihat kebiasaannya- sangat tidak suka ketika menterinya lebih sibuk tampil di media daripada bekerja.

Itulah kenapa dia suka bongkar pasang pasukannya. Jadi jangan heran ketika Rizal Ramli sampai Anies Baswedan yang dirasa tidak cocok bekerja dengan modelnya, harus menyingkir. Bukannya ia tidak ingin memberi panggung, tapi supaya mereka fokus pada tugasnya.

Memang bagi sebagian orang masa lalu, menjadi Menteri di era Jokowi adalah bencana. Mereka sudah tidak bisa lagi membanggakan posisi apalagi korupsi. Bahkan siap meninggalkan keluarga berhari-hari.

Tidak mudah sekarang ini mengenal siapa-siapa sosok di balik Jokowi. Karena mereka hanya mengenal kata team-work, daripada ego pribadi. Kita yang menikmati hasil kerjanya, wajib berterima kasih padanya.

Denny Siregar


Pak Basuki, saya angkat secangkir kopi.

MAEN CATUR ALA JOKOWI

Jokowi
Catur
"Kenapa Jokowi seperti membiarkan demo massa seperti itu ya?". Seorang teman bertanya. Ini yang menarik kalau membahas strategi yang dimainkan pemerintah.

Aksi massa yang berturut-turut seperti itu, ibarat gelombang air besar. Jika jalannya air ditutup, yang terjadi adalah ledakan besar yang memecahkan tanggul.

Karena itu, aparat seperti membangun sebuah pipa air besar supaya gelombang air itu tersalurkan. Keran terus dibuka tetapi pipa dikendalikan dan diarahkan ke tempat aman.

Dengan dibuatnya saluran tadi, tidak ada alasan bagi pendemo untuk menyerang Jokowi dengan tudingan sebagai rezim yang otoriter dan "penyumbat suara rakyat."

Beda dengan zaman Soeharto yang maen hantam, sehingga menimbulkan gelombang berikutnya. Soeharto dulu berhasil dengan cara itu, karena belum ada saluran informasi seperti media dan media sosial. Dulu semua media dikendalikan oleh rezimnya.

Panglima yang bertanggung-jawab untuk mengendalikan pipa saluran itu adalah Kapolri Tito Karnavian.

Ketika pak Tito sudah mengendalikan pipa saluran, tugas selanjutnya ada di Menkopolhukam Wiranto.

Wiranto bertugas untuk bertemu dengan para pentolan demo. Sesudah pak Tito menangkap beberapa pentolan dengan tudingan makar (yang akhirnya dilepaskan), para pentolan demo lain yang mengatas-namakan GPNF-MUI kemudian menghadap Wiranto.

Dalam pembicaraan dengan mereka, selain bernegosiasi, Wiranto juga memberikan tekanan-tekanan berdasarkan bukti-bukti yang memberatkan mereka. Beberapa pentolan tidak bisa mengelak ketika bukti-bukti itu disodorkan. Ada yang chat seks dan ada yang masalah dana sumbangan.

Wiranto menyandera mereka. Itulah kenapa gerakan yang tadi siang -aksi 313- sudah tidak bernama GNPF MUI, tetapi berubah menjadi FUI.

Yang menarik sebenarnya, adalah pelepasan para pentolan itu - yang seharusnya sudah ditangkap sejak kemarin.

Kenapa dilepas? Mereka harus tetap berada di barisan lawan untuk memantau dan memberikan informasi kepada pak Tito, siapa-siapa saja yang ingin makar dengan kekerasan pada demo selanjutnya dan siapa penyandang dananya.

Dan kita melihat ada si Gatot Saptono alias Al Khotot ditangkap bersama beberapa orang lainnya sebagai tersangka makar. Juga dipanggilnya Tommy Soeharto sebagai saksi berdasarkan bukti yang sudah dikumpulkan.

Inilah permainan strategi yang ciamik dalam meredam aksi besar supaya tidak menjadi "kendaraan" untuk membuat kerusuhan. Pak Tito dan Wiranto adalah ahli strategi yang dipasangkan untuk mengawal semua aksi yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan.

Sedangkan Jokowi fokus mengejar target pembangunan infrastruktur yang sudah direncanakan. Kalau maen catur, memang Jokowi masih jagonya. Satu raja sudah menyerah karena terancam skak mat, dan sekarang ia beralih ke papan catur lainnya. Jokowi mampu menempatkan bidak-bidaknya dengan tepat sehingga lawan menyangka mereka bisa memaksanya, tapi sesungguhnya mereka masuk jebakan yang sudah disiapkan..

Nah ,pertanyaan pentingnya.. Siapa pentolan yang dilepas kembali dan disusupkan sehingga bisa memberikan informasi-informasi yang tepat kepada aparat?

Yang bisa jawab, sana ambil voucher Hotel Kempinski-nya. Lumayan, semalam 5 juta rupiah. Tapi di dalam sudah ada yang menunggu, "abang gantengg.. mau dong cd bekasnya.." Brewoknya itu loh yang gak nahannn.. awwww.. Seruput sambil deg-deg an.