Kamis, 05 Januari 2017

Jangan Macam-macam Sekarang Dengan Indonesia

Konstitusi
Indonesia Kuat
Sejak pemerintahan Jokowi, sudah beberapa kali kita mengeluarkan sikap tegas kepada dunia internasional.

Dimulai dari sikap bu Susi menenggelamkan kapal2 asing yang selama ini dengan seenaknya mencuri ikan di laut kita dengan nilai trilyunan rupiah.

Langkah ini diikuti oleh Menlu Retno Marsudi yang meresmikan konsulat Indonesia di Ramallah Palestina meski dihalang2i Israel. Bu Retno juga menolak permintaan kerjasama dari Saudi untuk membentuk koalisi teroris yang hanya menguntungkan mereka dalam perangnya dengan Yaman.

Jokowi tidak mau kalah. Ia pun muncul dalam sengketa Natuna dengan China dan mengirim pesan terkuatnya. Ia juga bersikap tegas tetap menghukum mati para pengedar narkoba meski dicecar tekanan dari banyak negara. Indonesia juga bersuara keras pada 6 negara di Kepulauan Pasifik di sidang PBB karena ikut campur masalah HAM di Papua.

Sri Mulyani menggebrak Google dan Facebook karena mereka tidak mau membayar pajak. Dan tanpa ragu, JP Morgan ditendang keluar dari kerjasama dengan Indonesia karena laporannya menurunkan peringkat Indonesia menjadi negara yang tidak layak investasi.

Dan yang terbaru, TNI menghentikan kerjasama militer dengan Australia karena menghina Pancasila.
Ada apa semua ini ? Kenapa kita jadi begitu aktif bersikap di dunia internasional?

Ini bisa dibilamg pertanda dari kebangkitan Indonesia. Kebangkitan dari lumpuhnya kita selama puluhan tahun dari injakan terhadap harga diri yang hilang. Ingat dulu, begitu mudahnya pesawat asing melewati udara kita dan begitu gampangnya menyadap pembicaraan rahasia di negara kita.

Sekarang Indonesia berdiri dengan kepala tegak. Ada satu kebanggaan bersama yang dijunjung karena Indonesia sekarang berbeda, menjadi sangat berharga. Tidak ada lagi rasa rendah diri dalam membuat keputusan yang beresiko besar.

Indonesia selama sepuluh tahun pemerintahan SBY menjadi sangat lemah. Itu karena konsep SBY yang seperti tidak punya perlawanan karena prinsipnya, "thousands friends and zero enemy". Karena berharap dapat banyak teman dan tidak punya musuh, maka kita diinjek pun mau2 aja. Ditampar pipi kiri, berikan pipi kanan, sorongkan kepala, injek injek deh gua manut ajah..

Jokowi beda. Prinsipnya, berkawan itu baik selama sang kawan tidak mengganggu kedaulatan negara ini. Karena prinsip inilah, maka seluruh unsur di bawah pemerintahan Jokowi bergerak dengan bebas menegakkan kepalanya..

Jadi tidak heran ketika kita melihat negara ini seperti seekor singa yang mengencingi batas-batas wilayahnya sebagai pesan kuat, "Jangan pernah coba-coba melewati batas teritorial gua atau lu akan merasakan kerasnya taring gua.."

Indonesia bersikap. Seperti sikap secangkir kopi yang meski ditambahi berbagai macam elemen di dalamnya, ia tetap dinamakan secangkir kopi. Seruput dulu, teman.
Sumber: Denny Siregar

Ribut-ribut STNK & BPKB

BPKB
Kenaikan Biaya STNK dan BPKB
Saya tuh agak males bahas masalah-masalah kecil seperti masalah kenaikan STNK dan BPKB. Kenapa males, karena isu ini diangkat oleh mereka yang tidak suka apapun yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi. Mereka selalu nyari2 kesalahan sekecil apapun untuk diangkat, karena tidak ada lagi kesalahan besar yang harus dihantamkan.

Dan media mainstream pun sekarang mengikuti pergerakan medsos, dimana ada topik yang trending maka mereka akan mengangkatnya. Bahkan jika medsos ribut masalah kancing jas Jokowi pun, media mainstream akan ikut membahas.

Lah, gimana? Kalau ga bahas itu nanti gada yang nge-klik berita mereka, sedangkan mereka bekerja berdasarkan berapa klik yang mereka terima terhadap berita karena itu berhubungan dengan iklan.

Kenaikan STNK dan BPKB itu sebenarnya biasa banget. Wong dari tahun 2010 gak naik, sedangkan material bahan sudah naik kemana2.

Lagian kan yang disasar orang mampu, masak dah punya motor masih mau dibilang gak mampu sehh.. miskin amat. Lagian kenaikannya juga gak tinggi2 amat dan bukan kebutuhan pokok yang harus dibeli setiap hari seperti BBM.

Jadi apa yang dipermasalahkan? Permasalahan itu menjadi besar karena ada sekelompok orang yang ingin mempermasalahkannya.

Kalau pun Jokowi akhirnya bersuara supaya kenaikan itu tidak setinggi sekarang, ya itu tugas beliau. Tugas beliau kan menenangkan, sedangkan teknisnya diurus anak buahnya. Jadi wajar juga..

Jadi begini saja sederhananya..
Ribut di masalah yang diributkan oleh mereka yang percaya Equil adalah minuman keras, makan Sari roti menggerus akidah dan Monas bisa menampung 7 juta orang adalah sesuatu banget. Acuhkan saja, kalau perlu telepon 411 atau 212 minta deliperi Fitsa Hats...
Yang pake ciiiissss ya..
Sumber: Denny Siregar

Selasa, 03 Januari 2017

Implementasi UU Desa dan Menanti Kerja Cepat Kepala Daerah

Peranan pemerintah daerah dan masyarakat dalam implementasi UU Desa dan pengawasan Dana Desa sangatlah penting. Mengingat, jumlah Alokasi Dana Desa dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) terus mengalami peningkatan disetiap tahun anggaran.
Peranan pemerintah daerah dan masyarakat dalam implementasi UU Desa dan pengawasan Dana Desa sangatlah penting.
Untuk memenuhi amanat UU Nomor 6 Tahun 2014. Pada tahun 2017 jumlah alokasi dana desa yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam APBN sebesar Rp60 triliun. Lihat Rincian Dana Desa 2017 menurut Kabupaten/Kota

Oleh karena itu, Pemerintah Daerah (Pemda) dan Pemerintah Kabupaten/Kota harus optimal dalam melaksanakan fungsi pembinaan, monitoring, pengawasan, dan evaluasi pengelolaan dana desa dan implementasi UU Desa.

Peran masyarakat juga harus terus didorong untuk ikut berpartisipasi aktif dalam mengawasi penyaluran dan penggunaan dana desa. Hal ini sesuai dengan spirit yang terkandung dalam UU Desa.

Dalam UU Desa dijelaskan, semua pembangunan di desa harus mengikutsertakan masyarakat desa mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasannya.

Kita pun menanti kerja cepat pemerintah daerah dan pemerintah kabupaten/kota dalam mempercepat implementasi UU Desa. 
 
Salah satu kerja cepat bupati/walikota yang ditungguh-tungguh oleh Pemerintah Desa adalah Peraturan Bupati/walikota (Perbub/Perwali) tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa 2017.


Pada sisi lain, banyak pihak berharap penyaluran dan pelaporan Dana Desa yang terlalu biokratis harus dievaluasi. Hilangkan ego, ayo bangun desa![]

Tuhan, Orang Indonesia Itu Lucu-lucu

Gus Mus
Gus Mus
Siapapun bisa melihat bahwa peristiwa "penistaan agama" ini dijadikan panggung oleh banyak pihak.
Auranya kental sekali dan mereka seperti berdesak2an di panggung yang kecil dan hampir rubuh itu.
 
Ada yang mencari nama dengan memaki Presiden pake nama binatang. Supaya menonjol dan terlihat berani, dengan tujuan "coblos-lah saya nanti di Bekasi". Gara-gara itu anaknya sampe gak bs cari makan di dunia hiburan. Sungguh kasihan.

Ada juga yang ingin jadi pahlawan dengan niat membuka pintu gerbang supaya demonstran bisa tidur di Senayan. Terakhir berbalik dan menjilat ludah sendiri karena didatangi dan diberi senyuman,, "begini, ehm.. mau diem ato mau dituduh makar ?". Senyum-senyum malu, "ehhehe.. iyah pak, saya diem dah mulai sekarang..".

Ada yang berjubah putih layaknya seorang Nabi teriak, "Kita umat Islam harus berani !!". Ketika dikasi surat panggilan, "Wahai umat Islam, kita dizolimi oleh kompeni!!". Ada ajah strategi playing victimnya.
 
Didatangi lagi sambil diberi senyuman, "Jadi begini, ehm... mau tetap kerahkan massa atau mau kami kandangkan karena makar?". Senyum-senyum malu, "ehehe.. iyah.. tapi tolonglah kami sudah terima dana. Gimana kalo kami shalat jumat aja, lesehan sebentar? yang penting tugas kami selesai..".

Ada yang teriak-teriak dari Jogja, tapi gada yang dengarkan. Orang dah ga percaya, wong janji jalan kaki aja gak dilaksanakan. Ada juga yang dulu terlihat bersahaja dan pendiam, sekarang sering muncul di wawancarai media online. "Pokoknya, kalau si kepret dilepas, saya akan pimpin perlawanan.." Itu kode keras, mbok ya dananya dikesinikan. Sana dapet, masak sini dilupakan? Kami kan juga butuh makan.

Ada yang aktif di twitter maki-maki meski gaya pakaiannya Islami. Sambil lirik stasiun TV, "Kapan lagi nih gw diundang di ILC ?". Ada ustad-ustadan yang selalu ada disetiap pengajian. Sambil mengerling ke jaringannya di Saudi, "Tolong bilang bos, kirim lagi konsumsi. Masak gak liat keberhasilan gua kali ini?".

Ada juga yang jadi tersangka dan memaksa untuk ditahan. "Loh, gak perlu ditahan kok..". Senyum malu, "Yah, sayang dong.. kalau ditahan kan bisa bikin status - umat Islam doakan saya ya, saya ditahan. Pasti yang like dan share ribuan..".

Ada yang kangen berkuasa tapi sudah tersingkirkan. Gak didatangi, eh kelabakan. Sambil nyuruh-nyuruh si darah biru untuk bilang, "Kami siap jika diundang.." Buset, geernya keterlaluan. Ada juga yang dulu sukses terus tenggelam karena menduakan. Sambil berkaca di cermin, tersenyum senang, "Ini momen yang tidak bisa dilewatkan... saatnya ngetweet dengan ahlak, ahlak dan ahlak..".

Yang sangat elegan adalah model serdadu yang turun lapangan. Rangkul sana rangkul sini, "Semua baik - baik saja, kita pertahankan bhinneka tunggal ika.." Sambil lirik ke istana, "Jangan lupa, 2019 kalau bisa nanti saya no dua.."
 
Menarik memang panggung politik Indonesia. Ciri khas demokrasi di negara berkembang. Manusianya lucu-lucu dan selalu punya kepentingan. Halal saja sebatas tidak membuat kerusakan. Membangun citra itu perlu, mumpung masih memegang jabatan. Godaan dunia memang sulit dihindarkan.
 
Saya aja yang lelah melihatnya. Lebih baik minum kopi dan mulai berdoa.,"Tuhan, kenapa orang Indonesia itu lucu, imut dan menggemaskan?".
 
Tidak lama kemudian terdengar jawaban, "Supaya kamu bisa terus membuat tulisan..".

Denny Siregar.

Sri Mulyani Tendang JP Morgan

Menteri Keuangan
Sri Mulyani
Habis ribut dengan Google soal pajak, SM tidak ragu juga menendang JP Morgan. SM ini memang petarung kelas internasional. Ia bukan tipikal pemalu apalagi rendah diri menghadapi bankir kelas internasional. Siapapun yang menghadangnya, pasti dilibas. Seperti kata bu Susi, "Tenggelamkan!".

Ini bermula dari riset JP Morgan yang berjudul "Trump Forces Tactical Changes" kepada para investornya. Riset ini menggambarkan efek terpilihnya Trump sebagai Presiden yang gencar menarik dana ke negaranya dengan pembangunan infrastruktur dan bagi hasil yang tinggi di sekor keuangan.

Karena bagi hasil yang tinggi di AS itu, membuat banyak investor menarik dananya dari beberapa negara dan menanamkan uangnya di sana. Dan ini tentu saja membuat gejolak di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia.

Bukan itu saja, JP Morgan meng-kategorikan Indonesia berada dalam peringkat underweight, yaitu dalam 6 sampai 12 bulan kedepan situasi ekonominya akan memburuk. Lebih buruk dari Malaysia..
Ngamuklah SM sengamuk-ngamuknya. Apalagi selama ini JP Morgan adalah mitra dari negara untuk menjual surat hutang. Lha, mitra kok menjelek-jelekkan mitranya?

"Iki piye? Iki jenenge Pren mangan pren.." begitu kira-kira yang ada dalam pikiran SM dalam logat batak. Maka tanpa tedeng aling-aling, JP Morgan ditendang bokonge dari kemitraan. JP Morgan bahkan sudah tidak bisa lagi menerima dana tax amnesty.

Dibalik begitu lemahnya lobby kita dalam menghadapi remehnya pandangan barat selama ini, langkah SM ini benar-benar meningkatkan harga diri negara. Ia tidak ragu bertindak selaku tuan rumah yang galak - kesal karena kebaikannya selalu diinjak-injak. Sri Mulyani mengikuti jejak bu Susi yang tidak ragu menenggelamkan kapal-kapal asing yang selama puluhan tahun lalu lalang mencuri ikan di laut kita.

Duo Sri dan Susi ini memang memikat hati, beda kelas dengan duo Sri di Klaten yang ketangkap jual beli jabatan PNS. Satunya kelas internasional dan satunya lagi kelas inang-inang palugada, apa lu mau gua ada...

Sudah saatnya memang Indonesia berdiri dengan kepala tegak menghadapi pandangan remeh selama ini. Dan Jokowi menempatkan orang yang tepat pada waktu yang tepat.
Secangkir kopi untuk SM... Seruput, bu.. Libasssss...

denny siregar

Senin, 02 Januari 2017

Pemimpin yang Bercerita

Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi
Pintunya digedor keras dari luar pada tengah malam..
Saefudin sontak kaget. Dia membuka pintu rumahnya yang reot dan terbelalak melihat beberapa anggota brimob di depan pintunya sambil berkata keras, "Kami menduga rumah bapak jadi tempat persembunyian teroris.."

Anggota brimob langsung masuk ke dalam rumah dan menggeledah seisi rumah. Saefudin jelas ketakutan dan terus menyangkal dengan suara gemetar kalau dia menyembunyikan teroris.
Tiba2 masuklah seseorang yang dia kenal. Kang Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta dengan ketawa khasnya membopong beras sekantung. Langsung saja suasana mendadak ceria dan semua saling berteriak, "Selamat tahun baru !!"

Saefudin lega bukan kepalang. Apalagi Kang Dedi memberinya uang 10 juta rupiah untuk modal kerja.

Sudah bukan masanya lagi model pendekatan kepada warga menggunakan spanduk dan billboard besar di jalan-jalan. Apalagi dengan posisi yang itu-itu saja, menangkupkan kedua tangan di dada seolah berpesan "semua datang dari hatinya" dan biasanya bajunya putih bersih menunjukkan kesucian.

Itu IKLAN. Dan iklan biasanya hanya menampilkan yang baik-baik saja, tidak ada cacatnya..
Yang lagi trend sekarang, para pemimpin dan calon pemimpin melakukan marketing komunikasi atau relasi publik. Mereka langsung bersentuhan dengan masyarakat, berbicara dengannya dan menyentuh emosinya. Persis seperti yang ditulis Al dan Laura Rise dalam bukunya "The Death of advertising and the rise of PR"

Beberapa pemimpin yang berhasil melakukan ini seperti Jokowi dan Ahok tidak saja menggunakan media sosial seperti sebagai media komunikasinya, tapi langsung menyentuh ke lapisan masyarakat dengan berkunjung ke tempat mereka.

Perhatikan saja, mereka sangat jarang sekali memainkan media luar ruang seperti billboard dan spanduk yang menampakkan wajahnya.

Jadi apa yang dilakukan Kang Dedi ini menarik. Ia mengambil momen penggerebekan teroris dan tahun baru untuk menyentuh sisi emosi masyarakatnya. Harus kreatif memang dalam menampilkan diri, karena standar mereka juga mulai meninggi. Kerja saja tanpa ada sisi humanis yang ditampilkan seperti makan sayur tanpa celana dalam.. eh, tanpa garam.

Selamat datang di era baru "pemimpin yang bercerita", bukan pemimpin yang menangis dan prihatin saja. Mereka yang tidak mau berubah dan tetap menggunakan gaya orde baru, pasti akan tergilas masa.
Tok tok tok...
"Eh Kang Dedi, kok tiba2 mampir ke rumah saya yang reot ? Apakah mau ngasih uang 10 juta juga ???"
"Ngga, cuman mau nanya... situ dulu lahiran bidannya siapa ?"
Cemberut...( Denny Siregar)

Minggu, 01 Januari 2017

Sarungan, Jokowi Saksikan Kembang Api di Rumah Saja



 Presiden Joko Widodo merayakan pergantian tahun baru dari 2016 ke 2017 di Istana Bogor, Jawa Barat. Dari halaman Istana Bogor, Jokowi menikmati meriahnya kembang api.

Jokowi mengunggah foto kegiatannya itu di akun Twitter @Jokowi pada Minggu (1/12/2017) dini hari. Dalam foto tersebut, Jokowi tampak duduk di taman Istana Bogor dengan mengenakan kemeja dan sarung kotak-kotak.
Di latar belakang foto, tampak bangunan Istana Bogor yang diselimuti meriahnya kembang api.
"00.00 Tahun 2017 di rumah saja SELAMAT TAHUN BARU -Jkw," kicau Jokowi.
Foto ini mengingatkan momentum Jokowi saat pergantian tahun 2015 ke 2016. Saat itu, Jokowi juga mengunggah fotonya tengah bersarung saat menikmati sunrise atau matahari terbit yang pertama pada 2016 di Raja Ampat, Papua Barat.

Sejak Sabtu (31/12/2016) siang, Jokowi menghabiskan waktu menjelang akhir pergantian tahun bersama keluarganya. Ia bersama keluarga sempat jalan-jalan ke Botani Square, Bogor, untuk menonton film Cek Toko Sebelah.
Dalam film itu, putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, menjadi cameo atau bintang tamu.
Lalu, Jokowi juga sempat mengunggah video kegiatannya bersama Kaesang dan putrinya, Kahiyang Ayu, di YouTube. Dalam video, Jokowi ditemani kedua anaknya menelepon Neisha, bocah asal Tomohon.
Neisha sebelumnya sempat menangis karena tidak bisa bertemu Jokowi saat Presiden melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi Utara, Selasa (27/12/2016) lalu. Video Neisha yang menangis sebelumnya di-upload sang ibu di Facebook dan menjadi viral.
Sumber: Kompas.Com
http://nasional.kompas.com/read/2017/01/01/01375601/sarungan.jokowi.saksikan.kembang.api.di.rumah.saja

Seekor Musang Tertangkap Terbang Menunggang Burung Pelatuk





Seorang fotografer amatir dari Essex, Martin Le May, mengabadikan perilaku hewan mengagumkan. Dari area Hornchurch Country Park di London timur, dia mengabadikan
seekor musang (Mustela nivalis) yang terbang menunggang burung pelatuk (Picus viridis).

Foto itu kemudian tersebar di media sosial. Di Twitter, foto itu di-retweet ribuan kali.

Kepada BBC, Selasa (3/3/3015), Le May mengungkapkan, dia memotret musang itu saat berjalan-jalan bersama istrinya. Dia mengaku mendengar suara hewan yang berisik lalu tertarik menyelidikinya.

"Saya lalu menyadari bahwa itu adalah burung pelatuk dengan mamalia di punggungnya," katanya.

Dia berpikir bahwa dirinya dan istrinya mengganggu musang. Lalu, selagi burung pelatuk di darat, musang mungkin mendekati. Ketika terbang, sang musang kemudian terbawa oleh si burung.

Apakah foto tersebut palsu atau asli? Hany Farid, peneliti forensik digital dari Darthmouth University, mengungkapkan bahwa foto itu asli.

Dia mengungkapkan bahwa butuh sebuah kebetulan yang langka sehingga foto musang dan burung bisa digabungkan menjadi satu. Fakta bahwa Le May mengunggah beberapa foto juga mendukung dugaan bahwa foto memang asli. Farid juga melihat konsistensi foto.

"Menggabungkan, maka saya tidak melihat adanya bukti bahwa foto itu palsu," ungkapnya kepada National Geographic, Selasa.

Jika foto itu nyata, lalu bagaimana bisa musang menunggang si burung? Biolog dari National Wildlife Federation di Virginia, David Mizejewski, mengungkapkan bahwa ciri dua spesies tersebut membuat fenomena itu sebenarnya wajar.

"Sementara ini terlihat mengagumkan, ini mungkin tidak begitu mengejutkan bila Anda mengenal sedikit tentang dua spesies itu," katanya.

Burung pelatuk banyak menghabiskan waktu di daratan untuk mencari semut. Dengan demikian, spesies itu rentan serangan predator, seperti musang. Musang sendiri memang biasanya memangsa hewan kecil macam kelinci, tetapi juga bisa memakan burung.

"Musang bergerak untuk melukai spinal cord dari mangsa dengan menggigit lehernya dan itulah yang kita lihat dalam foto," ujarnya.

Mizejewski mengungkapkan, alam menyimpan banyak hal mengagumkan. Manusia bisa melihat dan mengabadikannya secara langsung jika akrab dengan alam. Ia mengatakan, foto Le May sangat mengagumkan.

Sumber: Kompas.Com