Senin, 15 Mei 2017

KITA YANG DURHAKA PADA PANCASILA

Pancasila
Pancasila
Pada satu waktu, saya diundang dalam acara tertutup dengan tema, "Sosialisasi Pancasila melalui media".

Saya termasuk yang diundang dengan beberapa teman media sosial. Kami berbicara banyak hal, sebelum akhirnya masuk ke pokok pembicaraan.

Dari wakil pemerintah melaporkan bahwa mereka sudah merumuskan beberapa program untuk sosialisasi Pancasila dan sudah mendapat lampu hijau di stasiun TVRI.

Lampu hijau ??

Rasa frustasi yang meningkat selama beberapa waktu melihat kondisi negara yang acakadut karena intimidasi ormas berbaju agama yang bertujuan merubah dasar negara, membuat saya muntap.

Langsung saya mengangkat tangan dan minta bicara. Saya genggam mic di depan dan suara saya keluar dengan bergetar.

"Pemerintah ini seperti tuan rumah yang lemah, yang bahkan harus meminta ijin tamunya hanya untuk ke toilet saja.

Pemerintah butuh persetujuan stasiun televisi hanya untuk sosialisasi Pancasila ?? Ini yang tuan rumah pemerintah atau stasiun televisinya ??

Pancasila itu sudah final dan tidak perlu sosialisasi. Pancasila itu doktrin dan doktrin adalah kewajiban negara untuk memasukkan ke otak-otak generasi bangsa secara sistematis.

Musuh Pancasila dengan mudah menguasai stasiun televisi dan mengubah pola pikir masyarakat awam dengan konsep khilafah.

Mereka mendoktrin masyarakat setiap hari, setiap menit, dan Pancasila sebagai tuan rumah yang diinjak-injak, diganggu kewibawaannya dengan malu-malu melakukan yang namanya sosialisasi ???
Tidak habis pikir saya. Yang punya frekwensi pemerintah. Yang punya izin juga pemerintah...

Seharusnya untuk Pancasila, para stasiun televisi yang menyewa frekwensi dan mengurus ijin, harus diberi kewajiban menyiarkan acara Pancasila yang dibuat pemerintah secara berkala. Itu kewajiban yang harus mereka lakukan, jika tidak, cabut ijin frekwensinya !

Meski bermasalah dengan pribadinya, itulah program terbaik yang dilakukan zaman Soeharto dengan menguasai media di tangannya, bukan media yang menguasai negara. Catat, ini masa siapa yang menguasai media, dialah yang menang perang.

Pemerintah harus sudah memperbaiki sikapnya. Kita sudah diinjak-injak sampai hampir rata dengan tanah..

Lihat, di banyak sekolah bahkan kepala sekolah pun mengharamkan para guru dan murid menghormati bendera. Haram, katanya. Bukankah itu berbahaya buat negara ??
Lihat di lembaga-lembaga negara. Siapa yang menguasai lembaga-lembaga itu ? Mereka yang ingin mengubah Pancasila !!

Para Menteri boleh ganti, tapi dibawah Menteri mereka sudah menanam ranjau sejak lama untuk secara sistematis menghalangi rencana pemerintah melakukan tugas dan kewajibannya menjaga persatuan negara.

Coba cek saja Kominfo, badan strategis informasi itu sudah puluhan tahun dikuasai sehingga loyo dan tidak punya daya, bahkan sekedar memblokir situs pemecah belah ?? Apalagi berhadapan dengan stasiun televisi, langsung pingsan karena banyaknya kirim surat teguran tapi gak dipandang sebelah mata..

Negara ini darurat ideologi. Banyak orang rapuh dan labil karena lemahnya negara yang sejak dulu dipingsankan. Di fase labil inilah doktrin radikal terus dimasukkan ke otak mereka, jadi jangan heran ketika mereka tumbuh dan menjadi pemuda yang haus darah, delusi dengan konsep khilafah yang akan mengubah hidup mereka.

Apa pemerintah buta akan hal ini ? Atau hanya abai saja ? Apa harus kita hancur dulu seperti Libya, Irak, Lebanon yang 15 tahun perang saudara dan Suriah dulu baru kita sadar akan bahaya ? Apa harus begitu dulu ??"

Keluarlah semua uneg-uneg dalam dada dimuntahkan seperti rentetan peluru sampai selongsongnya habis. Kusandarkan badanku ke kursi dan kuseruput secangkir kopi untuk menenangkan gundahku akan nasib bangsa ini di depan nanti.

Kutatap semua wajah yang hadir dan kukeluarkan peluru terakhir.

"Apakah semua yang hadir disini tidak sadar bahwa banyak anak-anak kita lebih hapal Mars Perindo daripada Pancasila???"

Denny Siregar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar