Jumat, 12 Mei 2017

SEBUAH CERITA ANEH DARI NEGERI INI

Pengadilan
Ahok
Dalam sebuah strategi pertarungan, tidak ada rencana yang sempurna. Hasil akhirnya adalah menang atau kalah, memakan atau dimakan..

Langkah catur Jokowi melepaskan Ahok ke pengadilan dengan mentersangkakannya, berbuah pahit.
Jokowi ingin melakukan pembelajaran hukum tanpa intervensi. Jika masih ditangan Polri yang masih dalam otoritas Presiden, tentu akan banyak tudingan mengarah padanya.

Melepaskan Ahok ke jalur pengadilan sebenarnya adalah strategi yang bagus. Apalagi dengan model pengadilan tetbuka dimana setiap mata bisa melihat proses-prosesnya.

Pengadilan yang telanjang dengan hadirnya saksi-saksi yang memberatkan dan meringankan membuat kita menjadi paham seperti apa yang terjadi di dalam ruang sidang.

Dan kita tergelak melihat banyak saksi yang sebenarnya bukan saksi mata berbuat seolah-olah dia ada di tempat kejadian perkara. Dagelan sidang dengan saksi yang tidak capable yang dihadirkan jaksa penuntut, membuat kita tersenyum berbulan-bulan dan mentertawakan banyak kejanggalan.

Jaksa penuntutpun -mungkin- akhirnya menjadi jengah sendiri. Dengan tuntutan yang setengah hati hukuman 2 tahun percobaan dan tidak memasukkan Ahok ke penjara adalah sebuah posisi aman.

Dan harapan pun berkibar. Sebuah pendidikan revolusi mental berjalan.

Sampai disini Jokowi berhasil menjalankan strateginya meredam suasana sambil terus fokus kepada pembangunan infrastruktur di banyak wilayah..

Sayangnya, revolusi mental belum sampai kepada hakim di pengadilan. Keputusan yang jauh lebih berat dari tuntutan jaksa pun dijatuhkan.

Banyak yang terperangah terhadap keputusan yang sangat tidak adil itu. Bagaimana bisa Ahok yang dalam setiap persidangan mementahkan tuduhan menista agama, tiba-tiba dijatuhi hukuman yang berat itu ?

Saya pun terperanjat habis. "Keputusan gila.." teriak saya di terik panas matahari. Seakan akal sehat saya dibenturkan pada kenyataan bahwa ketidak-warasan adalah hukum yang harus diterima.

Saya yakin, Jokowi pun sedih melihat bahwa ternyata perjalanan kita dalam revolusi mental ini masih sangat panjang. Hakim tidak berani memutuskan dengan objektif dan masih terpengaruh besar terhadap tekanan massa seperti yang dulu dihadapi oleh para terdakwa penistaan masa orba.

Pengadilan pun berjalan mundur ke sekian puluh tahun lalu. Ternyata mental-mental lama masih menghiasi wajah pengadilan kita, tempat kita banyak berharap ada keadilan disana.

Dan dalam perjalan pulang, saya mampir ke sebuah warung makan. Disana banyak anak-anak muda berpakaian putih, gamis dan beberapa bercelana cingkrang membawa bendera hitam dan putih menanti para pendukung Ahok pulang.

Sesekali mereka melakukan provokasi dan hampir saja terjadi benturan sebelum polisi masuk ke tengah dan memisahkan mereka.

Saya menggeleng sedih melihat wajah pemuda kita yang berusia belasan tahun itu. Teriakan AllahuAkbar bergema dari mulut mereka, keras tapi tanpa ruh dan tujuan. Saya jadi ingat video di Youtube dengan wajah dan pakaian yang sama, ISIS dan Jabht al Nusra melakukan pembantaian.

Masih panjang perjalanan kita. Masih sangat panjang dalam mencerdaskan bangsa yang sudah terbodohi dan jauh dari sejahtera selama puluhan tahun lamanya.

Kuseruput kopiku dan keluar dari rumah makan itu melewati mereka yang menatapku sambil berbisik dengan temannya. Mungkin mereka "agak kenal".

Aku tidak perduli. Kesedihanku lebih besar dari rasa marahku. Rasanya lelah dengan semua ini, tapi harus dijalani dengan segenap hati.


Setidaknya mengingat apa yang di alami Ahok, aku terhibur sendiri bahwa apa yang aku lakukan tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang dia alami..

Denny Siregar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar