Jumat, 06 Januari 2017

Kapal yang Dulu Bocor

Ekonomi
Hutang
Pada waktu debat pilpres di tahun 2014, terjadi dialog yang sangat familiar. Prabowo : "Bikin kartu ini, bikin kartu itu... Itu bisa saja Pak Jokowi. Tapi dananya dari mana? Emang uang bisa turun dari langit! ? Anggaran kita bocor Pak Jokowi, Bocorrr..!!"

Jokowi : "Anggarannya ada, dananya ada. Tinggal kita mau kerja atau tidak. Hanya itu, mau kerja atau tidak ?"

Dari sini kita bisa membandingkan mana pemimpin yang pesimis dan mana yang optimis. Dan ternyata sifat pesimis itu menular dan menjamur sampai sekarang. Para pengikut Prabowo selalu berteriak hal yang sama, "Katanya dananya ada. Mana ? Ternyata dari hutang.."

Saya sampai sekarang tidak mengerti jalan pikiran mereka. Sungguh...
Dalam hidup, saya selalu optimis dalam melihat sesuatu dan paham bahwa tidak ada hasil yang diperoleh dengan instan. Semua harus dilakukan dengan tekad dan kemampuan melihat peluang juga mampu memperhatikan potensi yang ada di diri kita.

Mungkin mereka yang masih pesimis, klimis dan sedikit berkumis itu tidak tahu atau tidak mau tahu, bahwa pada masa Jokowi ini kita berhasil merebut trilyunan rupiah dari hasil laut yang selama ini dicuri pihak asing. Jokowi juga berhasil memotong jalur pembelian migas yang selama ini dikuasai mafia dan menghemat ratusan trilyun rupiah.

Bukan itu saja, ia berhasil mengembalikan ribuan trilyun rupiah ke Indonesia dalam program tax amnesty.

Jadi Jokowi tidak salah, bahwa dananya ada. Kita punya uang. Cuman, bagaimana cara mengembalikan uang itu ke kita ? Dan Jokowi bukan hanya berjanji, ia benar2 mewujudkannya.

Hasilnya ? Pembangunan infrastruktur dimana2 dan terbesar ada di wilayah Timur Indonesia. Jalan, rel kereta, listrik sampai bendungan baru dibangun sebesar2nya. Kita sudah ketinggalan puluhan tahun bahkan dari negeri tetangga. Karena itu untuk mengejarnya kita tidak bisa hanya berjalan santai, kita harus lari sekuat tenaga...

Dengan terbangunnya infrastruktur, maka Jokowi juga berarti membuka lapangan kerja baru. Karena jika infrastruktur siap, maka investor pun masuk. Ah, tidak perlulah saya jejalkan data2 disini yang membuat anda pusing dengan angka. Selain bukan itu poinnya, toh kalau sudah benci apapun yang dikatakan anda tidak akan percaya.

Belum lagi kita sekarang sudah menikmati pengobatan yang murah meriah. Pemerintah sudah mulai menerapkan konsep sosialis bukan lagi kapitalis penuh seperti waktu lalu.

Ingat cerita lama seorang ayah yang membawa anaknya dalam keadaan meninggal karena dibuang pihak RS sebab tidak mampu membayar ? Apa masih ada berita seperti itu ? Jujur sajalah, tidak ada lagi kan?

Lalu kenapa kita masih hutang ?
Ya eyalah.. Hutang lama yang kemaren besar2 itu kan banyak yang jangka pendek dan harus segera dibayar. Kalau tidak dibayar, kita tidak akan dipercaya lagi. Kan gak mungkin nunggu duit dari hasil pembangunan infrastruktur, masih lama. Caranya, hutang dulu untuk menahan pembayaran yang paling dekat. Itulah kenapa kita masih berhutang sampai sekarang...

Jokowi bukan tipikal pemimpin yang sibuk mengeluhkan keadaan, "Sini bocor, sana bocor..". Kalau bocor, ya tambal. Kalau sudah ditambal masih bocor, amputasi biangnya. Biar kita bisa mikir ke depan, gak sibuk mikirin kebocoran..
Ah sudahlah...

Membicarakan hal besar kepada mereka yang masih ribut dengan kenaikan STNK 100.000 rupiah 5 tahun sekali, memang susah.

Miskin itu memang musibah, tapi mental miskin itu sifat. Karena selalu iri dan dengki, sulit melihat hal-hal yang besar sebab pikirannya sudah terkurung dalam kotak sempit.

Jadi, lebih baik saya sampaikan ini saja kepada mereka yang bisa mengerti dan membuka cakrawala pandang seluas2nya sambil minum kopi dan makan tahu isi..
"Bu, kopinya kok sekarang jadi 3.500 ???"
"MasyaAllah, nak... Kopi naik 5 tahun sekali kok ya ribut amat. Ibu aja gak ribut kalo kamu bayar utang 3 tahun sekali... Mana sapu. mana sapuuu !!" Kabur#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar