Minggu, 15 Januari 2017

Suatu Hari di Bumi DATAR

Ekstrimis
Bumi Datar
Pagi ini saya mampir ke bumi datar. Lelah dengan bumi bulat yang terlalu adem dan sempurna, bumi datar ternyata menyimpan sejuta peristiwa.

Disana semua lelakinya memakai daster tanpa celana. Mereka suka berteriak tanpa ada makna. Disana sudah menjadi budaya, semakin bodoh seseorang ia akan semakin dipuja. Yang paling bodoh di antara mereka dinobatkan menjadi ulama. Sungguh berbeda dengan bumi bulat tempat ilmu menjadi pegangan utama.

Mereka disana seperti drakula, takut sekali dengan salib. Warganya hampir semua paranoid. Jangan dicolek, karena mereka semua sensitip. Mungkin karena disana lelaki pun mendapat haid.

Bumi datar sungguh menarik. Agamanya perasaan, bukan sesuatu yang lojik. Karena logika buat mereka adalah iblis yang licik. Ngotot dulu, kalau salah tinggal sembunyi di balik bilik.

Yang wanita lebih menggila. Bawa panci aja, bisa meledak kemana-mana. Kalau ada berita, mereka sebar secepat cahaya. Tubuhnya terbungkus rapat, tapi mulutnya selalu terbuka. Kalau gak mencaci ya fitnah.

Bagi mereka fitnah adalah kebenaran dan kebenaran dianggap fitnah..
Di bumi datar ternyata ada juga mahasiswa. Uniknya, disana mahasiswa juga dagang sayuran. Mereka lebih sensitip harga cabe naik daripada fokus menjadi ilmuwan. Mereka bahkan tidak bisa membedakan mana pajak dan mana biaya perpanjangan.

Saya senang disana, semua jadi seperti hiburan...
Ada yang teriak mati syahid, tapi keluar pesawat aja pake kencing di celana. Ada yang di dunia maya galaknya seperti singa, disamperin langsung berubah jadi unta tak berdaya. Ada yang dikit-dikit lapor kayak anak manja.


Kalau ditanya, jawabnya selalu "Fitsa Hats, Fitsa Hats.." Saya gak ngerti, mungkin itu sejenis mantra. Atau karena giginya sudah gak ada, sehingga yang keluar dari bibirnya udara semua.


Ada beberapa orang yang saya tahu berasal dari planet abrakadabra. Mereka datang ke bumi datar karena ingin belajar. Sampai disana, mereka malah didaulat jadi pengajar. Ah, macam mana...

Sungguh awalnya saya ingin tinggal disana..
Tapi akhirnya tidak jadi karena saya ngeri. Disana minum kopi bukan seruput seperti biasanya. Tapi diminum secangkir-cangkirnya...

Ah, ternyata lebih enak di bumi bulat. Di tempatku semua normal dan apa adanya. Berbeda malah menjadi sesuatu yang indah. Tuhan kami sama, hanya cara menyembahnya saja dengan banyak cara. Itulah bukti bahwa Tuhan itu Maha Kuasa..

Tapi perlu sekali-kali mampir ke bumi datar. Supaya kita paham, bahwa menjadi waras disana adalah kegilaan yang sebenarnya...

Seruputt...
Sumber :Denny Siregar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar