Selasa, 24 Januari 2017

Konspirasi & Politisasi Kasus Brizieq, From Hero To Zero

Sumber foto : weekly.ahram.org.eg
Sungguh amat menarik melihat dinamika politik yang berkembang di tanah air beberapa waktu terahir ini. Tumbangnya rezim Suharto dan dimulainya era reformasi yang penuh dengan intrik, persekongkolan, perselingkuhan dan kemunafikan memulai era baru dunia politik Indonesia. Kekerasan rasial 1998 dan merosotnya perekonomian Indonesia membuat eksodus putra-putri terbaik anak bangsa ke luar negeri untuk mencari peruntungan dan kehidupan yang lebih baik.
Momentum kerusuhan 1998 dan dimulainya era “reformasi kebablasan” membuka peluang usaha bagi beberapa kelompok tertentu untuk mendulang rezeki dan popularitas. Era reformasi adalah era kebangkitan ormas Islam Indonesia. Presiden adalah tokoh besar NU. Ketua MPR tokoh besar Muhammadiyah. Tokoh agamis menguasai pemerintahan dan parlemen. Hanya PDIP ormas besar yang mewakili kaum Nasionalis.
Tumbangnya Suharto membuat redup ormas-ormas onderbouw Golkar seperti PP (Pemuda Pacasila) IPK, AMPI dan ormas sejenis. Dalam sekejab mata, ORBA dan Suharto berubah menjadi PKI yang diharamkan! Akan tetapi Indonesia adalah negara penuh pesona penganut, “Patah tumbuh hilang berganti”
Ormas kedaerahan dan berbau agama seperti FPI, FBR dan sejenisnya kemudian menggantikan peran ormas onderbouw Golkar, dengan struktur organisasi dan modus operandi yang sama!
Laskar ormas Orba yang kurang mendapat peran di ormasnya kemudian “hijrah” ke ormas yang baru. Kalau dulu berbaju loreng dan suka mabok didepan warga, kini mereka memakai “daster” atau seragam putih ala petugas kesehatan, dan maboknya dibelakang warga! Tapi jangan samakan ormas beginian dengan misalnya Banser NU yang resmi ormas keagamaan. Banser NU walaupun mampu bertindak keras dan tegas, tetapi kehadirannya lebih sering menyejukkan dan melindungi warga. Sementara efpei yang penampilannya agamis ini, tindak tanduknya lebih sering meresahkan dan mencelakai warga!
Apakah ormas-ormas ini bisa tumbuh sendiri? Tentu saja tidak! Ada pengasuh dan tuan yang berdiri dibelakangnya! Siapakah mereka para tuan ini? Yang pertama tentu saja para tuan eks Orba yang tidak ingin diciduk oleh petugas hukum! Mereka ini sengaja memelihara “anjing-anjing” untuk menjaukan mereka dari petugas hukum yang hendak menangkap mereka.
Tuan yang kedua adalah mereka yang berada pada kekuasaan ketika itu. Mereka memerlukan para “anjing-anjing” ini untuk eksistensi mereka. Ketika ada lawan yang hendak mengganggu para tuan, “anjing-anjing” ini segera dilepaskan untuk mengusir para pengganggu tersebut. Kalau dulu “anjing” ini bertampang sangar, mata merah karena mabok, kini berpenampilan bersih dan putih karena maboknya tidak kelihatan. Akan tetapi destruktifnya sama saja!
Tuan yang ketiga adalah para mantan yang berkolaborasi dengan para peminat kekuasaan. “Anjing-anjing” mereka ini bertugas untuk menyalak dan membuat kegaduhan terus menerus,  mengganggu ketenangan warga dan pemerintah, agar mereka tidak bisa fokus pada pekerjaannya masing-masing. Ketika suasana menjadi tidak terkendali dan “chaos,” maka para tuan ini akan segera datang bak “pahlawan kesiangan” untuk mengendalikan suasana dan menjadi boss yang baru!
***
Pada jaman dahulu, Yunani berperang selama sepuluh tahun melawan Troya. Walaupun Yunani negara besar, tetapi mereka tidak mampu menang karena benteng kota Troya sangat kokoh. Ahirnya Yunani mengatur siasat dengan mengirim patung kuda troya raksasa berisi prajurit-prajurit perang terbaik Yunani. Tugas mereka itu untuk melumpuhkan para prajurit pengawal gerbang kota pada malam hari, lalu membuka pintu gerbang agar tentara Yunani yang bersembunyi di luar tembok raksasa kota dapat menyerbu Troya. Rencana tersebut berjalan sukses dan kota Troy pun ditaklukkan.
Dengan beberapa modifikasi, Brisik ini adalah “kuda troya” JKW! “Brisik dengan laskar jaingnya” berhasil menjadi laskar jaing terbaik dan satu-satunya yang mampu menarik dan mempersatuan para “Tuan” dari berbagai golongan untuk kepentingan yang sama, yaitu untuk menyingkirkan JKW dan Ahok. Duet JKW-Ahok ini sejak 2012 memang menjadi jawara Tanah Betawi. Bak si Pitung, duet ini mengobrak-abrik “para Tuan tanah” dengan centeng-centengnya.
Duet si Pitung ini memang meresahkan para maling! Para Tuan yang dulu banyak korupsi dan berkolusi, sekarang menjadi kere. Apalagi para Tuan di Parlemen. Mereka adu ngotot di APBD, mengancam Ahok. Kalau Ahok masih berlagak ala siPitung, maka APBD tidak akan cair dan pembangunan tidak akan berjalan. Dan ahirnya memang APBD DKI tidak terserap!
Dulu penyerapan APBD memang mencapai 100%, tetapi sungainya sangat kotor dan dipenuhi sampah. Akibatnya kalau hujan sedikit langsung terjadi banjir. Gaji pegawai kecil sehingga disiplin kerja mereka sangat rendah. Fasum bagi warga juga sangat sedikit. Rusunawa hanya beberapa saja. Akan tetapi sekarang pembangunan ternyata tetap berjalan walaupun tanpa APBD! Buset! Ini satu-satunya di Indonesia atau bahkan di dunia, Pembangunan tanpa APBD! Jakarta perlahan tapi pasti berjalan on the track menuju kota yang mulai nyaman untuk dihuni oleh warganya.
Kuda Troya lalu menggelar trilogi aksi jilid I, II dan III yang fenomenal itu. Aksi itu bukan hanya berhasil menarik dan mengumpulkan para Tuan, tetapi juga rupa-rupa “kaum bersumbu pendek, sesapian, orang sakit gigi, maupun kaum kurang waras!” Aksi-aksi tersebut mampu mempersatukan “sapi dengan kebo dan memisahkan kambing dengan domba!”
Setelah misi tercapai, kini kuda troya tidak diperlukan lagi. Kuda mainan itu akan dirubuhkan, dipreteli, lalu dikumpulkan untuk dibakar pas pada hari lebaran kuda! “Kaum jaing” kini mulai gelisah dan putus asa. Mereka ini hidup dan bertindak berdasarkan otot bukan otak!” Kini kuda troya setiap hari dipanggil polisi. Di Jawa Barat, sebentar lagi kuda troya akan menjadi terdakwa seperti yang pernah dialaminya.
“Kaum jaing” ini selalu hadir mengawal kuda troya dalam setiap pemeriksaan polisi, dan untuk  persidangannya kelak. Akan tetapi sampai kapan mereka akan mengawalnya? Kini para Tuan sudah ngacir menjauhkan diri dari kuda troya. Ketika dana operasional untuk “uang lelah” dan nasi bungkus habis, perut mereka akan keroncongan! Sudah saatnya sekarang mereka ini belajar memakai otaknya! Mereka harus cepat-cepat “insap” dan berjuang dijalan yang benar dan waras!
Negara ini perlahan tapi pasti berjalan on the track menuju negara yang benar. Isinya cuma Pemerintah, Aparat Hukum dan Rakyat. Tidak ada lagi Tuan-tuan penguasa terselubung, kuda troya, sesapian apalagi “Kaum jaing….!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar