Selasa, 24 Januari 2017

Kapan Baik Itu Baik ?

“If you can’t feed a hundred people, then feed just one.” (Mother Teresa)
Katanya jadi orang baik itu susah. Kenapa ? Coba saja cari di Google, anda akan menemukan puluhan tautan ke laman yang membahas tentang ini. Lalu kenapa dibahas lagi ? Tidak, saya tidak akan membahas secara teori atau dari sisi filsafat apalagi dari sisi agama tentang apa itu kebaikan. Biarlah itu menjadi bahan ajaran dari orang tua ke anaknya, dari kakak ke adiknya, dari senior ke juniornya, dari guru ke muridnya, dari petinggi agama ke umatnya, dari pemerintah ke warganya. Kalau kata teman saya, saya mah apalah atuh…
Jadi gini, (sekalian saja saya pinjam gaya teman saya itu, dia baik sekali jadi pasti tidak keberatan) tadi saya mampir ke warung tenda dekat rumah untuk makan malam. Tidak perlulah saya ceritakan apa yang saya makan karena kuatir nanti yang baca jadi mendadak lapar sehingga dietnya gagal. Disaat saya sedang asik makan tiba-tiba ada seorang anak kecil datang menghampiri dengan membawa setumpuk puzzle sederhana yang ukurannya sedikit lebih besar daripada buku tulis, dan dihiasi gambar-gambar kartun menarik khas mainan anak-anak. Ini bukan hal baru sebenarnya dan saya sudah pernah menemui modus yang seperti ini sebelumnya. Kebanyakan orang berasumsi bahwa anak-anak seperti ini direkrut untuk menjajakan barang dagangan murah meriah seperti puzzle, buku buku, tisu, dan lain-lain, dengan harapan orang-orang akan membeli karena kasihan.
Saya tidak butuh barang yang dia jual tapi saya ingin memberi dia sesuatu. Saya ambil uang dari dompet dan saya berikan dengan alasan untuk jajan. Tapi anak itu menggelengkan kepalanya dan kembali berusaha menyodorkan puzzle yang dia bawa. Sepertinya memang tidak bisa, anak ini sudah diajarkan untuk konsisten harus menjual dagangannya, tidak boleh menerima sumbangan atau sedekah. Ya sudah, akhirnya saya beli.
Kemudian sambil melanjutkan makan saya berpikir, apakah niat baik saya untuk memberi dia uang itu baik ? Setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya saya salah. Anak ini sedang belajar mandiri. Entah itu dari keinginan sendiri atau karena disuruh oleh orang dewasa, tapi apapun latar belakangnya anak ini sedang menjalani suatu tahap dalam kehidupannya dimana dia belajar bekerja untuk mencari uang. Mungkin 15-20 tahun lagi pada saat anak ini sudah sukses (mudah-mudahan, saya harap begitu) dia akan melihat kebelakang dan ingat bagaimana pengalamannya bekerja keras berjualan untuk mencari uang dengan cara jujur dan bermartabat. Kenangan ini akan menjadi sesuatu yang bisa dia banggakan dan membangun kepercayaan diri dan kemandiriannya.
Sementara kalau saya memberi dia uang, itu sama saja saya mengajarkan dia untuk jadi pengemis. Sama saja saya mengajarkan bahwa karena dia miskin maka dia berhak menerima bantuan, dan orang yang lebih mampu wajib untuk memberi bantuan. Jelas saya salah, itu tidak baik. Kesalahan saya akan memberi anak ini pemahaman yang salah tentang hak dan kewajiban, tentang kemandirian dan cara bertahan hidup yang bermartabat.
Tapi kan tidak benar membiarkan oknum yang mempekerjakan anak-anak dibawah umur untuk berjualan seperti ini ? Kan seharusnya orang tua bertanggung jawab melindungi anaknya ? Kan seharusnya negara bertanggung-jawab untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar ?
Idealnya memang begitu. Tapi berapa lama kita harus menunggu bantuan supaya anak ini bisa hidup selayaknya, cukup pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, hiburan, dan lain-lain. Sementara anak ini butuh hal-hal itu sekarang.
Apakah cukup dengan kita berkomentar dan protes tentang bagaimana pemerintah seharusnya mencegah atau menangani kondisi seperti ini ?
Disaat kita dihadapkan dengan dua pilihan sulit, antara solusi ideal yang baik tapi sulit dicapai atau solusi praktis yang mungkin tidak baik tapi mudah dicapai, kita bisa memilih alternatif yaitu solusi sementara yang kurang ideal tapi cukup baik untuk saat ini.
Disini dibutuhkan pemahaman tentang situasi yang dihadapi dan ketulusan untuk membantu dengan cara yang baik.
“Do your little bit of good where you are; it’s those little bits of good put together that overwhelm the world.” (Desmond Tutu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar